A. Defenisi Pendidikan dalam Keperawatan
- Untuk mengatahui definisi pendidikan dalam perspektif kebijakan, kita telah memiliki rumusan formal dan operasional, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, yakni: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
- Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
- Pendidikan dalam keperawatan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan ilmu dan kiat keperawatan yang dimilikinya sehingga dapat diaplikasikan dalam bentuk pelayanan professional yang berbentuk bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
- Pendidik kesehatan adalah : seseorang yang memberi pendidikan maupun bimbingan kepada orang lain dibidang kesehatan, dengan tujuan terjadinya perubahan tingkah laku positif tentang kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
- Peserta didik adalah : klien (individu,keluarga,masyarakat) yang mendapatkan materi pendidikan atau bimbingan di bidang kesehatan, sehingga klien tersebut secara mandiri mau melakukan perubahan tingkah laku yang positif dan permanen dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
1. Sejarah Pendidikan Keperawatan
- Zaman purbakala ( Primitif Culture )
- Zaman mesir
- Pertengahan abad VI masehi
- Abad VII
Keperawatan mengalami kemajuan dengan prinsip dasar kesehatan pentingnya kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan makanan, air & lingkungan. Tokoh yang terkenal dari dunia arab pada masa itu adalah Rafidah.
- Permulaan abad XVI
Perawat di gaji rendah dengan jam kerja yang lama pada kondisi kerja yang buruk. Sisi positif dari perang untuk perkembangan keperawatan korban banyak membutuhkan tenaga sukarela sebagai perawat (orde-orde agama, istri yg mengikuti suami perang & tentara-tentara yang merangkap sebagai perawat) konsep P3K.
Rumah sakit yang berperan besar tahap perkembangan keperawatan pada masa kini (zaman pertengahan) yaitu hotel Dieu di Lion awalnya perawat mantan seks yang bertobat, tidak lama kemudian menggunakan perawat yang terdidik dari rumah sakit tersebut.
Hotel Dieu di Paris orde agama, setelah revolusi orde agama dihapus di ganti orang-orang bebas yang tidak terikat agama, pelapor perawat terkenal rumah sakit ini yaitu Genevieve Bouquet
St. Thomas Hospital, di dirikan tahun 1123 M Florence Nigtingale memperbaharui keperawatan.
- Pertengahan abad XVIII – XIX
Beliau lahir tahun 1820 dari keluarga kaya, terhormat, tumbuh & berkembang di Inggris, di terima mengikuti kursus pendidikan perawat usia 31 tahun.
2. Perkembangan Keperawatan Di Indonesia
Masa pemerintahan Belanda
- Perawat berasal dari penduduk pribumi (Velpleger) di bantu penjaga orang sakit (Zieken Oppaser)
- Bekerja di R.S Binnen Hospital di Jakarta (1799) memelihara kesehatan staf & tentara Belanda
- Membentuk dinas kesehatan tentara & dinas kesehatan rakyat
- Kesehatan adalah milik manusia melakukan pencacaran umum.
- Membenahi cara perawatan pasien dengan gangguann jiwa.
- Memperhatikan kesehatan & perawatan para tahanan.
- 3. Perkembangan Organisasi Profesi Keperawatan
- ICN (International Council of Nurses) organisasi profesional wanita pertama di dunia di dirikan tgl 1 Juli 1899 o/ Mrs.Bedford Fenwick.
- Memperkokoh silaturahmi perawat seluruh dunia
- Memberi kesempatan bertemu bagi perawat di seluruh dunia untuk membicarakan masalah keperawatan.
- Menjunjung peraturan dlm ICN agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperawatan berdasarkan kode etik profesi keperawatan.
- ANA di dirikan tahun 1800 yg anggotanya dari negara- negara bagian, berperan:
- Menetapkan standar praktek keperawatan.
- Canadian Nurse Association (CNA) tujuan sama dengan ANA memberikan izin praktek keperawatan mandiri.
- NLN (National League for Nursing) di dirikan tahun 1952, tujuan untuk pengembangan & peningkatan mutu pelayanan keperawatan & pendidikkan keperawatan.
- British Nurse Association di dirikan tahun 1887, tujannya:
- PPNI di dirikan 17 Maret 1974.
- C. Tujuan Pendidikan Dalam Keperawatan
Dalam dunia pendidikan dikenal sejumlah usaha untuk menguraikan tujuan yang sangat umum tersebut. Salah seorang diantaranya adalah Herbert Spencer (1860) yang menganalisis tujuan pendidikan dalam lima bagian, yang berkenaan dengan:
- Kegiatan demi kelangsungan hidup.
- Usaha mencari nafkah.
- Pendidikan anak.
- Pemeliharaan hubungan dengan masyarakat dan negara.
- Penggunaan waktu senggang.
Bloom cs mebedakan tiga kategori tujuan pendidikan, yaitu :
- 1. Kognitif (head)
a) Knowledge (Pengetahuan)
Meliputi informasi dan fakta yang dapat dikuasai melalui hafalan untuk diingat.
b) Comprehension (Pemahaman)
Merupakan kesanggupan untuk menyatakan suatu definisi, rumusan, menafsirkan suatu teori.
c) Application (Penerapan)
Merupakan kesanggupan menerapkan atau menggunakan suatu pengertian, konsep, prinsip, teori yang memerlukan penguasaan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam.
d) Analysis (Analisis)
Yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu dalam unsur-unsurnya misalnya analisis hubungan antara masyarakat dengan alam dan jagad raya.
e) Synthesis (Sintesis)
Yaitu kesanggupan untuk melihat hubungan antara sejumlah unsur.
f) Evaluation (Penilaian)
Penilaian berdasarkan bukti-bukti atau kriteria tertentu.
- 2. Afektif (heart)
a) Receiving
Menerima, menaruh perhatian terhadap nilai tertentu.
b) Responding (Merespon)
Yaitu memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu, menunjukan kesediaan dan kerelaan untuk merespon, merasa puas dalam merespon.
c) Valuing (Menghargai)
Yaitu menerima suatu norma, menghargai suatu norma, dan mengikat diri pada norma tersebut.
d) Organization (Organisasi)
Membentuk suatu konsep tentang suatu nilai, menyusun suatu sistem nilai-nilai.
e) Characterization by Value or Value Complex
Mewujudkan nilai-nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak seseorang, norma itu menjadi bagian diri pribadi.
- 3. Psikomotor (hand)
Peran perawat tidak hanya care giver (pemberi asuhan) saja tetapi juga sebagai concelor, educator dan concultant, sehingga dengan perannya tersebut seorang perawat memerlukan pengetahuan tentang pendidikan agar bisa memberikan pendidikan secara sistematis sesuai cara, metode dan media pendidikan yang benar dan tepat terhadap klien, sehingga hasil dari pendidikan yang diberikan kepada klien bisa tercapai tepat sasaran dan tepat guna.
Perawat Harus menguasai bidang pendidikan, karena dengan mempelajari ilmu pendidikan seorang mahasiswa prodi keperawatan diharapkan dapat memberi dan menerima informasi yang akan dibutuhkan dalam menghadapi pasien ( orang lain) sehingga mampu mengarahkan pada pencapaian kompetensi profesional.
- D. Fungsi Pendidikan Keperawatan
- Fungsi pendidikan
- Peserta didik dalam hal kaulifikasi/persyaratan, mekanisme seleksi dan penerimaan, serta daya tampung peserta didik.
- Proses pendidikan yang mencakup tujuan pendidikan/rumusan kompetensi, kurikulum pendidikan, proses pembelajaran/evaluasi hasil belajar, fasilitas sumber daya pendidikan, dan rumah sakit pendidikan.
- Lulusan yang mencakup kaulifikasi/persyaratan, mekanisme penilaian akhir/keprofesian, dan jumlah yang diluluskan dan sebaran.
- Fungsi penelitian
- Berperan aktif dalam riset dasar dan terapan, pengembangan ilmu pengetahuan ilmu keperawatan, mengembangangkan teknologi keperawatan, meningkatkan mutu, dan memperluas jangkauan pelayanan
- Manfaatkan tekhnologi maju secara tepat dalam rangka meningkatkan mutu dan memperluas jangkauan pelayanan professional
- Melaksanakan berbagai bentuk kegiatan ilmiah yang meliputi ceramah/diskusi ilmiah, forum ilmiah, tulisan ilmiah/majalah ilmiah dan pengawal ilmu keperawatan.
- Fungsi pengabdian masyarakat
- Pelayanan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk, sifat dan jenjang pelayanan kepada masyarakat, serta membangun model pelayanan/asuhan keperawatan
- Pendidikan dan bimbingan masyarakat dengan cara membina kemampuan masyarakat mengatasi masalah keperawatan yang dihadapi.
- Mengarahkan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir dan melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan professional
- Memberi konsultasi dalam keperawatan kepada berbagai pihak yang memerlukan.
- E. Peran Pendidikan Tinggi Keperawatan
- Membina sikap pandangan dan kemampuan professional
Sebagai perawat profesioanal diperoleh kepuasaan kerja yang selanjutnya memacu pencapaian kemampuan melalui penampilan kerja yang lebih baik lagi. Kemampuan berpikir kritis dalam mengambil keputusan serta mampu mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan yang dilakukan merupakan salah satu factor utama tercapainya kepuasaan kerja (Jones dan Beck, 1996). Kepuasaan kerja perawat akan menghasilkan kepuasaan pada pemakai jasa keperawatan, baik masyarakat maupun intitusi tempat bekerja.
- Meningkatkan mutu pelayanan/ askep dan kesehatan
Teori dan model keperawatan dapat dikatakan bermanfaat, jika bisa diterapkan dipelayanan, begitu pula dengan system manajemen keperawatan yang dipelajari selama pendidikan. Fasilitas pelayanan yang dapat digunakan sebagai sumber pendidikan yang diharapkan cukup kondusif untuk proses pembelajaran peserta didik (Hamid, 1997)
- Menyelesaikan masalah keperawatan dan mengembangkan iptek keperawatan melalui keperawatan
- Meningkatkan kehidupan keprofesian melalui organisasi profesi
Selain itu, organisasi profesi akan lebih berperan dalam proses pengembangan dan pembinaan keterampilan professional dan menerapkan kode etik profesi bagi tiap anggotanya melalui pengaturan dan pengadaan system pendidikan berkelanjutan serta mengendalikan pemanfaatan dan pengembangan IPTEK keperawatan(husin, 1999).
- F. Penataan Pendidikan Tinggi Keperawatan
- Program pendidikan D-III keperawatan program pendidikan ini akan menghasilkan perawat Vokasional (ahli madya keperawatan) yang dikembangkan dengan landasan keilmuan dan keprofesian serta diharapkan memiliki tingkah laku dan kemampuan professional serta akuntabel dalam melaksanakan asuhan keperawatan dasar secara mandiri dibawa sepervisi. Mereka diharapkan mempunyai kemampuan mengelolah peraktek keperawatan yang sesuai dangan kebutuhan klien.
- Program pendidikan ners
- Program magister keperawatan program ini menghasilkan perawat ilmuan (scintist) dengan sikap tingkah laku dan kemampuan sebagai ilmuan keperawatan yang diharapkan mempunyai kemampuan: meningkatkan pelayanan profesi dengan jalan penelitian dan pengembangan, berpartisipasi dalam pengembangan bidang ilmunya, mengembangkan penampilanya dalam spectrum yang lebih luas dengan mengaitkan ilmu/profesi yang serupa serta merumuskan pendekatan penyelesaian berbagai masalah masyarakat dengan cara penalaran ilmiah (keputusan Mendikbud Nomor.056/U/1994/pasal 2 ayat 3).
- Program pendidikan ners spesialis
- G. Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan
sistem merupakan kesatuan bagian – bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. misalnya, negara yang merupakan suatu kumpulan dalam beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara dengan rakyat sebagai penggeraknya. ‘’ sistem’’ sering kali digunakan baik dalam prcakapan sehari-hari , forum diskusi maupun dokumen ilmiah.
Landasan pembangunan sistem pendidikan tinggi keperawatan di indonesia merupakan bagian terintegrasi dari sistem pendidikan tinggi nasional karena hakikat pendidikan tinggi keperawatan sebagai pendidikan profesi dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Melalui pelaksanaan tiga fungsi pokok pendidikan tinggi keperawatan, yaitu pendidikan keperawatan, riset keperawatan dan pengabdian masyarakat ,di harapkan pendidikan tinggi keperawatan menghasilkan berbagai karakter dan sifat lulusan yang kompoten dalam bidang pelayanan dan konsultasi keperawatan bagi masyarakat. Pengembangan kurikulum pendidikan keperawatan merupakan pandangan filosifis atau paradigma tentang keperawatan , orientsi pendidikan tinggi , kerangka konsep pendidikan tinggi keperawatan , dan kelompok ilmu keperawatan.
- H. Pendidikan Profesi Keperawatan
Kelly (1981) dalam Ma’rifin (2003) mengembangkan criteria profesi meliputi :
- Layanan yang diberikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kemanusiaan.
- Adanya body of knowledge yang khusus dipelajari dan dikembangkan melalui proses penelitian.
- Layanan yang diberikan termasuk aktivitas intelektual, tanggung jawab dan tanggung gugat secara individu merupakan suatu tangtangan yang besar dan harus dijawab.
- Perawat praktisi relative bebas dan dapat mengontrol kebijakan dan aktivitas yang mereka perbuat (otonomi).
- Perawat praktisi harus memiliki dasar pendidikan di institusi pendidikan tinggi.
- Pearwat praktisi`memberikan pelayanan dengan motivasi altruistikdan menganggap bahwa pekerjaan yang mereka lakukan merupakan kegiatan terpenting di hidupnya
- Terdapat kode etik yang memberikan panduan dalam mengambil keputusan dan meneruskan praktik yang mereka lakukan
- Terdapat organisasi profesi yang dapat memberikan bantuan dan dorongan dalam menerapkan standar praktek keperawatan.
- Mitra kerja
- Sumber informasi
- Pendidik
- Pemimpin
- Wali atau pengganti
- Konselor
Akan tetapi pendidikan profesi keperawatan yang bertujuan mewujudkan pelayanan professional harus dilandasi oleh kemampuan meneliti dari peserta didiknya. Kemampuan ini ditimbulkan melalui keingintahuan yang tinggi selama proses pendidikan yang dipelihara sedemikan rupa sehingga setelah lulus perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan yang berbasis fakta (Evidence based practice).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar